Perang Sungai Manik (7)

Sudah genap sebulan perang Sabil di Sungai Manik, tapi masih belum menampakkan tanda akan berakhir. Bertimbun, bergelimpangan mayat komunis namun mereka masih belum serik, malah semakin cekal. Kekuatan mereka bertambah saban hari, entah dari mana datangnya tak pula diketahui.

Dalam pada itu, gerombolan komunis di Seberang Sungai Perak makin mengganas, menyiksa dan membunuh orang Banjar dan Melayu di Kampung Gajah dan Balun Bidai. Orang Cina tidak pula diapa-apakan malah dijaga dengan baik. Begitu agaknya taktik kotor komunis untuk melemahkan semangat pejuang Sabilullah di Sungai Manik.

Tinjau bilang barucau batuhui kada sing rantian basanjaan di higa rumah Patuan Guru Hj. Bakri.

Sepanjang senja, di tepi rumah Tuan Guru Haji Bakri, riuh rendah murai (tinjau) berkicau tanpa henti.

“Kalau berita baik, bawalah kemari, kalau buruk jauhkanlah” begitulah selalunya kata-kata orang tua Banjar bila mendengar kicau murai diwaktu senja. Betapa ada kebenarannya. Selepas solat Isyak malam itu…

IKUTI CERITA SETERUSNYA DI SINI

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s